Dilema Mahasiswa; Prestasi atau Gengsi

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Yth. Bapak dan ibu guru majelis guru

Yth. Bapak dan ibu guru dewan juri

Selanjutnya untuk teman-teman yang sehati dan seperjuangan

Puji syukur kita ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunianya kepda kita semua sehingga kita dapat berkumpul di ruang ini. Shalawat beriring salam tidak lupa pula kita kirimkan kepada nabi besar kita Muhammad saw, yang telah membawa umatnya dari alam jahiliyah ke alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini. Baiklah pada kesemptan ini izinkan saya untuk menyampaikan sebuah pidato singkat yang berjudul Dilema Mahasiswa; Prestasi atau Gengsi.

Teman-teman yang akan menjadi calon-calon mahasiswa

Terlepasnya kita nanti dari bangku SMA ini, insya allah kita akan menyandang prediket mahasiswa. Namun tahukah teman-teman makna dari mahasiswa itu sendiri ? Masyarakat menganggap (sekaligus mengharap) label mahasiswa adalah sebuah jaminan bahwa individu-individu yang berada di dalam lingkaran edukatif yang menaunginya berpikir dan berkreasi secara lebih inovatif. Produk-produk pemikiran mahasiswa selalu dinantikan sebagai wacana dalam menelaah permasalahan-permasalahan yang berkembang dalam masyarakat. Akan tetapi, degradasi atas berbagai sisi mahasiswa membuat kepercayaan dari masyarakat menjadi luntur. Banyak faktor yang melatarbelakangi hal tersebut, beberapa diantaranya adalah komersialisasi kampus. Kampus sebagai tempat proses tansfer ilmu oleh dosen kepada mahasiswa cenderung berubah haluan menjadi kapitalis. Tanda-tanda tersebut bukan berdasar pada biaya kuliah yang semakin tinggi saja, tapi juga terjadi pada proses interaksi antar mahasiswa. Kini, kampus menjadi semacam catwalk yang diatasnya dihamparkan fashion show, adu keren mobil (tanpa perduli mobil tersebut adalah hasil korupsi si orang tua), bahkan kampus merupakan ajang transaksi pelacuran tingkat tinggi yang notabene adalah ekses dari budaya materialistis. Pada tingkatan kampus sebagai institusi, prestasi menempati urutan kesekian dari sebuah keputusan untuk melakukan perekrutan mahasiswa. Akibatnya, kampus hanya menciptakan pribadi-pribadi yang kaya akan gengsi namun miskin prestasi yang pada akhirnya menempatkan kampus sebagai sebuah tempat eksklusif tanpa akses penghubung dengan lingkungan masyarakat. Maka jangan heran bila sekarang ini perguruan tinggi berkualitas bisa diukur dengan hitungan jari.

Yang kedua adalah mahasiswa sebagai makhluk individualistis (egois). Jiwa sosial adalah ciri khas Indonesia sebagai bangsa. Akan tetapi semua itu kini tinggal slogan belaka. Khusus dalam kehidupan mahasiswa, yang ada hanyalah sifat indidualistik. Bagaimana tidak? Coba anda tanyakan pada mahasiswa yang rata-rata adalah pendatang di daerah sekitar kampus. Apakah mereka ikut dalam kegiatan kampung? Apakah mereka tahu nama pak RT? Sama sekali tidak!. Rata-rata kegiatan sehari-hari mahasiswa adalah kuliah, makan, tidur, siklus tersebutlah yang tiap hari dijalani mahasiswa. Sifat individual tersebut bukan hanya diakibatkan oleh mahasiswa sendiri, namun juga terpengaruh oleh sistem pendidikan kampus yang hanya menilai prestasi berdasarkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) saja. Padahal IPK hanyalah salah satu sisi standar penilaian dari sebuah inteligensi. Mungkin mahasiswa hanya mampu berada pada tingkatan bermimpi bahwa suatu saat kemampuan dan intelektualitas mahasiswa tidak hanya dilihat berdasarkan IPK saja yang kadang kala menyesatkan karena sering merupakan penilaian subyektif dari dosen. Tetapi juga berdasarkan implementasi dari teori-teori yang didapat di bangku kuliah, khususnya terhadap apa yang bisa kita berikan kepada masyarakat.

Teman-temanku sekalian yang berbahagia

Selanjutnya pilihan kuliah di luar negeri atau pengangguran. Mungkin anda bertanya-tanya, apa korelasi dari kedua hal diatas yang sepintas sama sekali tidak berhubungan. Ya, sebagian dari penduduk Indonesia hanya punya dua pilihan dalam mengahadapi fenomena yang sudah dijelaskan sebelumnya. Dengan orientasi perguruan tinggi yang cenderung berubah, orang-orang yang ingin masuk ke perguruan tinggi dan mampu secara ekonomi pada akhirnya lebih memilih kuliah di luar negeri yang secara kualitas lebih bagus dan bergengsi tapi dengan konsekuensi mengabaikan panggilan hati nurani untuk mengabdi kepada masyarakat. Akibatnya, banyak intelektual muda kita yang setelah menyelesaikan kuliahnya di luar negeri tidak kembali ke Indonesia namun lebih memilih bekerja di luar negeri karena di negara tersebut, prestasi mendapat apresiasi tinggi dibanding negara kita yang lebih mengedepankan KKN. Nah bagaimana yang tidak mampu? Bagi yang tidak mampu secara ekonomi (meskipun memenuhi secara prestasi) hanya bisa gigit jari melihat ‘ harga’ perguruan tinggi yang melambung tinggi. Pada akhirnya, pengangguran mendapatkan ‘anggota baru’. Sebuah ironi tentunya apabila ditelaah kembali berdasarkan cita-cita bangsa yang termaktub dalam Pembukaan Undang-undang Dasar negara.

Dari sini dapat kita simpulkan bahwa pendidikan kita hanya menghasilkan generasi materialistik individualistik yang lebih mengutamakan gengsi semata dibanding prestasi. Maka wajar fenomena pergeseran nilai dan fungsi kampus itu terjadi. Realita ini seharusnya membuka mata dan kesadaran kita. Sudah saatnya kita menghempaskan jauh-jauh belenggu egoisme individu kita sembari kita kembali merajutkan sebuah perjuangan hakiki untuk mengembalikan kembali kemuliaan umat ini.

Demikianlah pidato saya. Terima kasih atas segala perhatiannya, mohon maaf atas segala kekurangan.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

ujian praktik pidato

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Twitter Updates

Blog Stats

  • 27,434 hits
February 2009
M T W T F S S
« Jul   Oct »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728