Indonesia Punya Nobel, Mungkinkah?

Beberapa hari yang lalu, tepatnya 10 Desember 2011, diberikannya penganugerahan Nobel 2011 secara terpisah di Oslo dan Stockholm. Adapun bidang yang dinilai yakni bidang kesehatan, fisika, kimia, ekonomi, sastra, dan perdamaian. Peraih Nobel kebanyakan berasal dari negara Barat. Merupakan pertanyaan bagi kita mengapa negara Timur jarang mendapatkan Nobel? Masih belum pantaskan pemenang-pemenang olimpiade Indonesia tingkat dunia meraih Nobel? Apa masalahnya?

Kata Nobel berasal dari nama seorang industrialis Swedia sekaligus penemu dinamit, Alfred Nobel. Ia melihat hasil penemuannya dimanfaatkan untuk tujuan yang merusak. Maka dari itu. Tanggal 17 November 1895 di Swedish-Norwegian Club, Paris ia menandatangani wasiat. Di dalam wasiat, ia menginginkan agar penghargaan Nobel diberikan kepada mereka yang berjasa besar terhadap kemanusiaan. Dengan menghadiahkan 94% kekayaannya, Alfred Nobel memberikan penghargaan pada lima bidang, yakni kesehatan atau fisiologi, fisika, kimia, ekonomi, sastra, dan perdamaian. Sejak saat itu penghargaan Nobel dilaksanakan setiap tahun pada tanggal 10 November, yaitu tanggal Alfred Nobel wafat. Biasanya, nama calon penerima diumumkan pada bulan Oktober oleh komite dan institusi yang berwenang dan penyerahan hadiahnya 10 November.

Penganugrahan Nobel banyak diraih oleh warga negara Amerika. Hal itu disebabkan tingginya apresiasi negara tersebut kepada warga negaranya. Mereka lebih menghargai proses dibandingkan hasil. Adapun beberapa upaya yang dapat dilakukan sebagai solusi penghargaan nobel untuk Indonseaia diantaranya dengan motivasi dari keluarga dan tenaga pendidik, mengutamakan pendidikan praktis daripada teori, fokus, penghargaan dari pemerintah.

Pertama, motivasi dari keluarga dan pendidik. Banyak kasus-kasus keluarga di Indonesia yang minim sekali dalam memotivasi anak. Anak sedari kecil mestinya diperkenalkan segala hal agar dia mampu menentukan pilihannya kelak. Banyak anak-anak Indonesia yang tidak memiliki soft skill karena kurangnya pengetahuan tentang soft skill yang ingin dipelajari. Terkadang keluarga tidak melakukan apa-apa untuk itu, bahkan di antara teman-teman ada yang mengatakan dirinya diremehkan misalnya dengan kata-kata, “mimpi itu yang real. Jangan terlalu tinggi-tinggi nanti gak kesampean.” Mestinya anak-anak di motivasi untuk banyak bermimpi karena ada pepatah yang mengatakan kita tidak akan bisa lebih besar dari mimpi kita.

Kemudian, pendidik juga dapat turut serta mendorong siswa-siswanya. Terkadang guru lupa akan potensi anak yang berbeda-beda. Mereka sering menyamakan kemampuan yang satu dengan yang lainnya. Padahal setiap orang memiliki minat dan kemampuan yang berbeda-beda. Di sekolah-sekolah sering kita jumpai guru yang suka memuji muridnya yang hebat di IPA di bandingkan yang hebat pada kesenian atau IPS sehingga banyak anak yang putus asa akan kemampuan yang dimilikinya. Nah, di sini tugas pendidiklah mengetahui bakat siswanya dan mengarahkan ke bakat itu agar ia bisa menjadi hebat di bidangnya.

Kedua, pentingnya pendidikan praktis. Pendidikan formal di sekolah-sekolah cenderung kepada teoristis. Siswa diminta menghafalkan rumus-rumus, konsepan-konsepan, tanpa ada praktek yang nyata. Semestinya, siswa lebih banyak diberikan praktek dari pada teori. Untuk hal teori kita tidak bisa memandang Indonesia sebelah mata karena banyaknya pelajar yang berhasil memenangkan olimpiade dibidang sains tingkat dunia. Namun, apalah gunanya teori jika tidak aplikatif. Nah, di sanalah kelemahan Indonesia.

Ketiga, fokus. Kita tidak fokus dalam mendalami suatu ilmu. Di negara Barat, dari SMA siswa sudah dikelompokkan terhadap fokusnya. Berbeda dengan Indonesia, kita disuruh memelajari segala macam ilmu dalam waktu yang singkat. Hasilnya memang kita lebih unggu dalam bidang umum, tapi kita tidak ahli dalam bidang apapun. Menurut saya, akan lebih baik bila pengelompokkan di Indonesia sedini mungkin. Adanya SMK di Indonesia merupakan hal penting yang harus betul-betul di dukung pmerintah. Hanya pada SMK-lah orang-orang bisa fokus dan bisa mempraktikkan ilmunya. Menurut saya, pemerintah harus branding SMK yang selama ini dicap sebagai sekolah buangan dari SMA. Padahal sebetulnya SMK membuat kita lebih fokus. Bagaimana cara branding-nya, yakni dengan memberikan fasilitas belajar yang pas untuk SMK.

Keempat, apresiasi dari pemerintah. Ilmuwan-ilmuwan Indonesia yang berhasil di luar negeri sangatlah banyak. Banyak dari ahli-ahli ini yang ingin pulang ke Indonesia. Bagaimanapun burung akan kembali pada sarangnya. Ketika ahli-ahli tersebut mengabdi kepada Indonesia, mereka tidak mendapatkan apa-apa dari sini. Mereka tidak mendapatkan dana untuk penelitian mereka, tidak mendapatkan hidup yang layak. Pemerintah memang sudah memberikan apresiasi, berupa sertifikat. Ya, jangan salahkan nasionalisme! Bagaimanapun orang-orang ini butuh hidup yang layak. Paling tidak hidup seperti pemerintah yang menjabatlah. Setaraf ilmuwan dunia manamungkin diberi gaji sama dengan PNS kebanyakan.

Indonesia memang mungkin mendapatkan Nobel karena memiliki karakter yang ulet. Pada akhirnya, motivasi dan apresiasi sangat dibutuhkan untuk menggenjot prestasi dalam meraih nobel. Hal tersebut dapat di mulai dari keluarga, lembaga pendidikan, sampai kepada pemerintah.

diterbitkan pada Sumedang Ekspress Rabu, 21 Desember 2011

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Twitter Updates

Blog Stats

  • 27,434 hits
February 2012
M T W T F S S
« May   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
272829