Musem Sri Baduga: Memupuk Rasa Cinta Museum

Gambar

Sesampainya di Jalan BKR No. 185 kita akan melihat sebuah papan nama besar menyamping, berwarna oranye mencolok. Di papan nama itu terdapat batu besar berwarna hitam yang diukir. Masuk ke dalam, kita akan melihat sebuah rumah panggung tradisional beratap suhubnan panjang. Rumah ini dipadukan dengan gaya arsitektur modern. Di atap rumah itu tertulis jelas “Museum Sri Baduga”.

Balai pengelolaan Museum Negeri Baduga mulai dibangun pada tahun 1974. Kemudian, diresmikan tanggal 5 Juni 1980 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Dr Daoed Joesoef.  Awalnya museum ini bernama Museum Negeri Jawa Barat. Kemudian tahun 1990 berubah menjadi Sri Baduga yang diadopsi dari nama seorang Raja Padjadjaran.

Tahun 2001 museum ini menjadi Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga yang merupakan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Provinsi Jawa Barat. Tugas pokok dan fungsi museum ini ialah melaksanakan pengumpulan, perawatan, penelitian, penyajian benda tinggalan sejarah alam dan budaya khusus Jawa Barat.  

Hingga tahun 2012, terdapat 6708 buah koleksi Museum Sri Baduga. Koleksi ini dikelompokkan lagi ke dalam 10 klasifikasi, yakni geologika, biologika, etnografika, arkeologika, historika, numismatika, filogika, seni rupa, keramologika, dan teknologika.

“Dalam pengelolaannya secara teknis, Museum Sri Baduga mandiri. Namun, dalam hal keuangan tetap dari provinsi,” tutur Ani Ismarini yang menjabat sebagai Kepala Museum Sri Baduga. Ia sendiri bersyukur dengan anggaran yang diberikan provinsi pada 2013.

Tahun 2012 anggaran provinsi kurang dari 1 milyar dan tahun 2013 ini menjadi 2,5 milyar. Dengan anggaran ini, Ani dapat menambah koleksi museum, mengadakan acara-acara, membuat bahan promosi, dan perawatan yang lebih untuk museum.

Ketika kita masuk ke museum, museum ini memang tampak berbeda dengan museum-museum biasanya. Museum tampak rapi dan bersih, serta penataannya yang memang membuat pengunjung betah. Ani mengakui penataan museum ini terinspirasi dari Belanda.

“Museum di Belanda itu membuat kita enak untuk datang. Ada pamerannya dan warna museumnya juga dibuat cerah. Saya ingin terapkan itu di sini,” ujar Ani yang mengenyam pendidikan sejarah ini.

Kania Regista, salah seorang pengunjung sekaligus siswa SD Awi Gombong 01, sangat senang dan ingin berkunjung kembali ke museum. “Asik, mau ke sini lagi. Kalau bisa tiap hari,” katanya.

Inovasi-inovasi pun terus dilakukan Museum Sri Baduga, salah satunya melalui komunitas Sahabat Museum Baduga. Komunitas yang kebanyakan anggotanya mahasiswa ini sering melakukan kegiatan seperti merekam upacara adat , lalu memutarnya di museum. Tak jarang anggota dari komunitas ini diibatkan dalam pameran di museum sebagai pemandu.

Menurut Ani, hal ini sengaja dilakukan agar ada rasa terlibat dalam mencintai museum. “Di era sekarang ini bicara museum bukan  bicara benda-benda yang dipamerkan saja, tetapi bagaimana masyarakat bisa terlibat,” ungkapnya.

Kerja sama dengan sekolah-sekolah pun turut dijalin. Di antaranya bila ada pentas budaya, sekolah-sekolah di sekitar museum dilibatkan sebagai pengisi acara. Ke depannya, Ani ingin mewajibkan semua sekolah mengunjungi museum. “Saya akan kirim surat ke Dinas Pendidikan Provinsi agar sekolah-sekolah diwajibkan mengunjungi museum. Mungkin nanti siswa-siswa dapat diberi tugas mengenai museum,” tuturnya.

Hal tersebut sudah dilakukan oleh SD Awi Gombong 01. Sumiarti, salah seorang guru dari SD itu rutin setiap satu tahun sekali mengajak siswanya mengunjungi museum. “Bawa anak-anak agar nambah wawasan. Nanti di sekolah akan dibahas lagi,” ujarnya. Hampir sama dengan Sumiarti, Vinia, mahasiswa Maranatha, mengajak adiknya berkunjung agar menambah pengetahuan mengenai kebudayaan dan budaya kuno.

Ke depannya, Ani Ismarini berharap ada penambahan isi museum karena 5 tahun sekali isi museum harus berubah. “ Museum itu 3-4 tahun harus berubah. Tahun kelima temanya harus berubah total. Maka dari itu kita harus aktiv mencari kolektor-kolektor,” ungkapnya.

Luas museum  yang hanya 8415,5  lebih kecil dari museum-museum provinsi lain di Indonesia sehingga butuh diperluas. Dekatnya museum dengan pemukiman warga merupakan salah satu faktor mengapa museum harus diperluas. Untuk sementara,  pada 2014 museum akan direnovasi dan ditambah lantai atas.

“Harapan saya, keluarga kalau punya hari libur sempatkan waktu ke museum. Gimana ada kemajuan kalau untuk datang saja tidak mau,” harapnya.

 Gambar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Twitter Updates

Blog Stats

  • 27,434 hits
January 2013
M T W T F S S
« Feb   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031