Pemerintah Akui Lemah Pengawasan Limbah

Gambar

limbah tekstil

BANDUNG-Terkuaknya pencemaran sungai di Cijalupang oleh limbah cair PT Sandang Sari membuat Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bandung turun tangan. Meskipun demikian, masih belum terlihat sanksi yang setimpal pada perusahaan tersebut.

Menurut Ahmad Rekatomo, Kepala BPLH Kota Bandung, BPLH sudah melakukan sidak  lapangan terhadap PT Sandang Sari yang memproduksi bahan kemeja dan bahan celana. Hingga saat ini BPLH sudah membuat berita acara dan akan mengajukan berita acara kepada PT Sandang Sari.

“Di dalam berita acara itu tertulis IPAL-nya  (Instalasi Pengolahan Air Limbah) tidak optimal dan TPS B3 (Tempat Pembuangan Sampah Bahan Berbahaya dan Beracun)  belum ada,” tuturnya kepada Republika saat ditemui di Pendopo Kota Bandung, Kamis,(14/2). Berita acara ini akan diajukan kepada PT Sandang Sari dan menunggu kesanggupan berapa lama perusahaan ini dapat menyelesaikan persoalannya.

Bila nanti perusahaan tersebut tidak menepati janjinya, saluran pembuangan limbah akan ditutup. “Ada pernyataan dia tidak boleh membuangnya ke air. Kalau kenyataan dia masih membuang, outlet-nya kita tutup, Terserah nanti dia mencari orang ketiga yang bisa mengelola limbah itu” ujar Rekatomo.

Pemerintah sendiri tidak memberikan pembatasan waktu kepada PT Sandang Sari. “Sebenarnya aturan sih gak ada yah, limitasi  gak ada, Dua bulan lah,” tuturnya. Dalam berita acara juga disebutkan bahwa perusahaan tersebut tidak boleh membuang limbahnya ke dalam air.

Dalam pengawasan memang ada self monitoring. Di mana setiap perusahaan yang membuang limbah harus memberikan laporan tiap bulan. Adapun yang mengeceknya ialah laboratorium “Nanti yang mengecek adalah laboratorium yang disewa perusahaan itu. Sepanjang nilai evaluasi bulanan itu sesuai dengan baku mutu, ya kita anggap itu masih tidak mencemari,” ucap Rekatomo.

“Kita percaya terhadap laporan dari laboratorium itu. Tapi kita gak tau ya, misalnya dia detik ini self monitoring dan sudah sesuai baku mutu. Setelah itu, dia buang limbah itu ‘kan bisa aja,” lanjutnya. Diakui Rekatomo, pemerintah masih punya keterbatasan dalam mengawasi limbah pabrik. Maka dari itu, perlu kerjasama dari aparat wilayah dan masyarakat setempat.

Sungai-sungai di Kota Bandung sendiri sudah tercemar dan  rata-rata berada di kelas 4. Kelas 4 merupakan air yang bermutu buruk. Air ini hanya dapat digunakan untuk keperluan pertanian saja. Sejauh ini sudah ada 16 sungai di Bandung terkontaminasi limbah tekstil. Beberapa diantaranya, sungai Cikapundung, Cidurian, dan Cijalupang.

Sungai yang berada di tengah kota Bandung, Cikapundung, juga memilik kualitas kelas 4. Sungai ini juga terkena limbah pabrik. Asep (52), Ketua Komunitas Zero 008 (komunitas peduli Cikapundung), mengaku prihatin terhadap kondisi Sungai Cikapundung. “Dahulu, di sungai ini kami bisa berenang. Tetapi sekarang, kondisinya sangat memprihatinkan,” kenangnya.

Pada akhirnya, Ahmad Rekotomo menuturkan, “Kami telah adakan sosialisasi dan edukasi kepada pemimpin seluruh perusahaan tekstil di Bandung untuk tidak membuang limbah ke sungai dan badan jalan,” ujarnya. (mj02-Suci Amelia Harlen)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Twitter Updates

Blog Stats

  • 27,434 hits
February 2013
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728