Sapta Nirwandar: “Pilih Pemimpin yang Memihak Pariwisata”

BANDUNG- “Indonesia akan jadi kontributor besar pada sektor pariwisata. Aset kita sudah besar,” ujar Dr Sapta Nirwandar, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Ia meyakinkan kepada mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung masih banyaknya kesempatan pada sektor ini. “Tantangan pada sektor pariwisata ialah sumber daya manusia yang harus ditingkatkan,” sambungnya pada kuliah umum Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) di Enhai Hotel Bandung, Senin (18/2).

 Perkembangan pariwisata di Indonesia juga disebabkan perkembangan pariwisata di Jawa Barat. “Jawa Barat itu lengkap semuanya, baik alam maupun budaya. Orangnya pun ramah-ramah dan juga kulinernya, sangat special Jawa Barat. Menurut saya, kita tinggal optimasi saja,” tutur Sapta Nirwandar.

Perkembangan tersebut yaitu pada infrastruktur, akses, dan kemasan. Pada kemasan sendiri, Sapta mewanti-wanti agar Indonesia memiliki kreatifitas dalam membuat kemasan yang menarik. Misalnya, mochi yang dibuat di Jepang lebih menjual dibanding Sukabumi. Meskipun mochi Sukabumi lebih enak dibandingkan Jepang. Namun, Jepang mampu memenangkan pasar karena kemasan yang menarik.

Ekonomi kreatif lebih membidik kepada desain. Akan sanagat disayangkan bila seseorang buta desain. “Bila buta desain itu sayang. Bahan sama, bila diberi sentuhan ilmu desain harganya naik. Dengan desain yang berbeda akan menampilkan produk yang berbeda pula dan ditambah lagi dengan brand,” ucap Sapta yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Alumni Universitas Padjadjaran.

Dikatakan Sapta, industri kreatif sangat berkaitan dengan pariwisata. “Justru industri kreatf amat berkaitan dengan pariwisata karena orang kalau berpariwisata perlu beli souvenir, makan, dan liat-liat. Itu semua kreatif,” ujarnya.

Sementara itu Mice Bandung dinilai masih belum mumpuni. Hal itu karena belum ada convention center yang mampu menampung banyak orang. Menurutnya, semesti harus ada 3 convention center yang  mampu menampung 2000-5000 orang. “Bandung memiliki potensi Mice karena dekat dengan Jakarta dan dapat pula berkonferensi sekaligus berpariwisata,” ucapnya.

Pada 2013, diperkirakan turis lokal lebih banyak dibanding turis mancanegara. Begitu pula dengan pendapatan yang akan didapatkan lokal, terutama pada hari-hari besar.

Pengeluaran turis per kali datang naik hingga 1.133 USD dengan sebelumnya 1.117 USD. Turis yang banyak berkunjung ialah dari Autralia, China, dan Eropa. Pariwisata yang padat pengunjungnya tetap ditempati Bali dengan 35%. Kemudian Yogyakarta, Batam, dan sudah tersebar ke Manado, Lombok, dan Semarang.

Investasi di bidang pariwisata naik, baik pada bidang hotel dan restauran. Hal tersebut harus diimbangi dengan sumber daya manusia yang harus ditingkatkan. “Banyak kesempatan dan jangan sampai malah orang luar yang mengisi. Kita juga harus mengisi ke luar, di samping kita juga mengisi ke dalam,” ujar Sapta.

Diakui Sapta sektor pariwisata yang kuat ialah Singapura dan Filipina. Untuk Filipina sendiri karena negara ini menggunakan bahasa Inggris sejak lahir. Namun, semestinya Indonesia harus kompetitif dalam sektor pariwisata ini.

Di Indonesia sendiri persiapan dimulai dengan perbaikan infrastruktur dan non infrastruktur pada Sekolah Tinggi Pariwisata. Menurut Sapta, pengembangan pada dunia pendidikan pariwisatalah yang secara kongkrit dapat menjawab pariwisata Indonesia ke depannya.

Sapta berpesan pada Pemerintah Kota Bandung agar memberikan pelatihan dan mempermudah birokrasi.  “Bandung harus memberikan pelatihan, pemasaran, outlet-outlet dipermudah, juga pasar-pasar diintegrasikan,”ujarnya.

Pada 2012, kunjungan wisatawan mancanegara, 1.130 USD per kunjungan dalam kurun 3-4 hari. Sementara turis lokal rata-rata Rp 700 ribu per hari. Diperkirakan Sapta pada 2013 pendapatan karena kunjungan turis mancanegara dan lokal naik hingga 5-10 %. Sementara, sebelumnya pada 2012 pendapatan naik 6-7 %.

Menurut Jacob Garnet, Ketua Jurusan Pariwisata, apa yang disampaikan Sapta Nirwandar benar-benar menggambarkan kondisi realitas. Pada bidang pariwisata, pengembangan sumber daya manusia merupakan hal yang harus menjadi fokus agar pengembangan dapat dilakukan secara cepat.

Potensi pariwisata kota Bandung sendiri amat banyak dan ada sektor yang belum terjamah. “Potensi Kota Bandung itu pada belanja, kuliner, heritage tourism, dan wisata pendidikan yang belum terjamah,” tutur Garnet kepada Republika.

Ketika ditanya apa kontribusi STP pada Bandung, Garnet menjawab STP  telah banyak menyumbangkan pemikiran dan berdiskusi bersama pemerintah. Meskipun demikian, diakui Garnet tidak banyak hal yang diterapkan. “Ya, itu ‘kan terkait juga dengan berbagai kepentingan,” cetusnya.

Menurutnya, lembaga pendidikan merupakan salah satu potensi yang dapat dikembangkan. Riset dapat dijadikan salah satu daya tarik bagi Bandung.

“Keterlibatan perguruan tinggi penting untuk mitra daerah. STP sendiri sudah banyak memberi masukkan untuk Bandung dan Indonesia,” sambung Kerti Utami, dosen jurusan Hospitality.

Jadi pariwisata memberi dampak ekonomi secara langsung. “Ada 5 kandidat Pilgub Jabar. Kalau tidak pernah ngomong pariwisata jangan dipilih. Kalau ada kandidat yang berpihak baru kita pilih,” gurau  Sapta Nirwandar. (mj02-Suci Amelia Harlen)

 Republika halaman 22 judul diiganti dengan “SDM Pariwisata Perlu Ditingkatkan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Twitter Updates

Blog Stats

  • 27,434 hits
February 2013
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728