Awas! Bandung Tenggelam!

GambarBANDUNG-Masalah Citarum bukanlah hal baru, sudah sejak tahun 1960 sungai ini bermasalah. Hal ini dituturkan Ir. M. Donny Azdan, MA, MS, Ph.D, Direktur Pengairan dan Irigasi Bappenas pada “Pameran  Foto Aliran Kehidupan di Sungai Citarum” di Gedung Campus Center Timur Institut Teknologi Bandung, Kamis (21/2). Namun sekarang yang dilakukan Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas)  ialah melakukan normalisasi sungai dengan melibatkan stakeholder dan pemerintah dalam pembenahannya.

Bapenas mengakui butuh waktu yang lama untuk dapat mengembalikan Citarum. Waktu yang dibutuhkan sebetulnya diperlukan untuk merubah paradigma masyarakat terhadap sungai.

“Dalam menormalisasikan kembali Citarum lebih baik tidak usah cepat-cepat. Kalau cepat-cepat nanti tidak ter-cover (tertutupi). Kita bisa saja buka investasi besar-besaran, tetapi sustainability (keberlanjutan) nanti ‘kan bermasalah bisa tidak jadi untuk masyarakat,” ungkap Donny.

            Meskipun sudah sejak 2009 Citarum dibersihkan, tetapi Donny Azdan mengaku belum mencapai target dari segi fisik. “Pencapaian secara fisik tidak ada, tetapi awareness (kesadaran) masyarakat sudah tinggi,” tuturnya. Menurutnya, hal yang terpenting ialah membangun paradigma dari masyarakat agar tidak membuang limbah di sungai.

            Bandung masih bergantung kepada air tanah dan tidak memiliki suplay dari air permukaan maka bisa saja hal tersebut terjadi. Kebutuhan air dibandung sebesar 21 m³/s sementara ketersediaan air minum di Bandung hanya 8 m³/s. Kemudian, calon-calon sumber air hanya berkisar 3-4 m³/s

“Bila hal ini tidak diatasi, bisa jadi Bandung akan tenggelam,” tutur Donny. Menurutnya permukaan Bandung yang cekung inilah yang membuat pengendalian banjir di Bandung sulit dilakukan. Hal ini disebabkan 50 % kebutuhan air di Bandung diambil dari air tanah. Sementara air tanah di Bandung sudah turun 40 meter.

            Kelangkaan air ini juga disebabkan dengan pertambahan penduduk Bandung yang seharusnya 2 juta penduduk, sekarang mencapai 4-5 juta masyarakat.

             Pada banjir Jakarta, pompa membran yang dibuat I Gede Wenten  mampu mengendalikan banjir. “Pompa membran itu dapat digunakan, kalau di luar negeri ‘kan sudah biasa. Tetapi kalau di masyarakat kita masih diperhitungkan halal atau tidaknya untuk wudhu. Itu ‘kan susah jadinya,” ungkap Donny.

            Bila kebutuhan air di Bandung tidak dapat terpenuhi, maka dibutuhkan percepatan. Percepatan itu dilakukan dengan mengalirkan air dari terowongan.

            “Sungai Citarum bisa normal pada 2018. Korea saja cuma 4,5 tahun sudah bisa normalisasi. Kalau masalah uang kita cukup,” ungkap Donny. Ia menuturkan, target Bapenas ialah bagaimana bisa merubah paradigma masyarakat.

            Diakui Suharsono, Kepala Bidang Pengendalian Perencanaan Lingkungan BPLHD, hampir 80 % industri membuang limbahnya ke sungai. Masalahnya ialah banyak industri yang melakukan manipulasi laporan. “Kalau laporanya bagus, tetapi bila kita sidak limbah yang dibuang di atas baku mutu,” ungkapnya.

Penyebab lain selain limbah domestik ialah limbah industri. Industri yang membuang limbah ke Citarum  lebih dari 300 industri. Suharsono melanjutkan, “Makanya kabupaten harus hati-hati memberi izin kepada industri,” sambungnya. (mj02-Suci Amelia Harlen)

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Twitter Updates

Blog Stats

  • 27,434 hits
February 2013
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728