Magic Mushroom: Narkoba yang Belum Intensif Ditangani

foto:wikipedia.org

Magic Mushroom (Jamur Kotoran Sapi)

BANDUNG- Magic mushroom atau yang lebih dikenal mushroom yang tumbuh pada kotoran sapi, sudah diatur dalam Undang-undang Narkotika Nomor 35 Tahun 2009. Meskipun sudah diatur, penggunaan jamur ini masih dirasa lumrah bagi masyarakat. Bahkan di kawasan pantai dengan terang-terangan jamur ini diperjual-belikan dan dicampur dengan masakan. Tak jarang pula kalangan mahasiswa menggunakan jamur ini.

            Salah seorang mahasiswa di perguruan negeri ternama Bandung mengaku sudah mengetahui magic mushroom ilegal. Meskipun demikian, ia masih saja bisa mendapatkan jamur tersebut. “Di sekitar sini (kampus) juga ada yang jual, asal tahu saja siapa penjualnya,” tuturnya.

            Penjualan magic mushroom di kampus-kampus tersebar dari mulut ke mulut. Satu kantong plastik seberat ¼ kilogram dapat dibeli dengan harga Rp 50 ribu.

Penelusuran Republika sendiri ketika berada di Bali, penjualan magic mushroom amat banyak dijual di restoran dan penginapan. Seolah tidak ada yang ditakuti dan tidak ada peraturan yang mengikat.

Guntar Anggara Putra, Kabid pendidikan dan penyuluhan Gerakan Anti Narkotika Nasional (Gannas), “BNN belum bisa merazia pengguna magic mushroom, sehingga mereka belum bisa dijerat hukuman penjara,” ujar Guntar.

Di Jawa Barat sendiri, penggunaan  magic mushroom juga sering ditemukan di daerah wisata pantai, seperti di Pangandaran dan Anyer. Menurut Guntar, pengguna magic mushroom di kawasan pantai belum dapat dijerat karena masyarakat pengonsumsi biasanya tidak tahu bahwa yang ia makan ialah makanan terlarang. “Masyarakat cuma tahu jamur ini enak, tetapi tidak tau efeknya berbahaya,” tuturnya.

Penggunaan magic mushroom sebetulnya sudah diatur pada UU Narkotika No. 35 Tahun 2009 golongan 1 dengan nama psilosibina (nomor 47).  Jenis ini termasuk ke dalam jamur (meskalin, psilisibin, mushroom) sebagai halusinogen, setara dengan ganja.

Pada pasal 114 ayat 1 UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika tertera bila seseorang menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli narkotika golongan 1, maka akan dikenakan penjara 5-20 tahun dan denda 1-10 milyar.

“Di Jawa Barat magic mushroom belum populer dan belum ada kasus,” tutur Drs. Wuryanto Sugiri, Kepala Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional (BNN) Jawa Barat.  Menurutnya, inilah yang menjadi bahan sindikat agar bisa meloloskan produknya dan lolos dari jeratan hukum.

Pengguna dan penjual magic mushroom belum dapat disergap. Hal itu karena belum ada kasus yang luar biasa terjadi. “Ya, kalau ada masyarakat yang mabuk karena menggunakan atau meninggal mungkin baru bisa terjerat,” ujar Agus Dadang Sukana, salah satu anggota pemberantasan  BNN Provinsi Jawa Barat.  (mj02-Suci Amelia Harlen)

 

 

           

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Twitter Updates

Blog Stats

  • 27,434 hits
February 2013
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728