Nongkrong di Taman Lansia, Mengapa Tidak?

Tak jauh dari pusat pemerintah Bandung, Gedung Sate, kita dapat mampir dahulu ke Taman Lansia. Taman ini berhadap-hadapan dengan Museum Pos Indonesia. Taman Lansia merupakan singkatan dari Taman Lanjut Usia. Meskipun demikian, anak mudalah yang lebih dominan berekreasi di sini.

            Setiap pagi biasanya banyak orang tua berusia lanjut berolahraga di sini. Olahraga yang sering dilakukan seperti jogging, bersepeda, dan senam lansia yang biasanya dilakukan akhir pekan. Orang tua biasanya berolahraga sebelum pukul 11.00 wib. Sementara bila siang atau sore datang, tempat ini berubah menjadi tempat berkumpul anak muda.

            Menurut salah seorang pedagang yang sudah 7 tahun berdagang di taman ini, Taman Lansia memiliki banyak perubahan. Sebelumnya pohon-pohon di taman ini tidak begitu banyak dan tidak ada tempat duduk. Kemudian, banyaknya pedagang kaki lima yang sekarang bisa berjualan di depan taman lansia.

            “Kalau dulu di sini banyak semak-semaknya. Dulu cuma bapak yang jualan di sini,” tutur Tatang Kusuma. Menurutnya Taman Lansia semakin hari semakin membaik fasilitasnya. Sebelumnya, tidak banyak tempat duduk di sini. Namun, sekarang sudah ada tempat duduk bantuan dari PT Telkom.

            Taman Lansia memang asri, tetapi cukup suram. Hal itu karena taman ini yang hanya ditumbuhi pohon-pohon tua. Bila mendengar kata taman, biasanya kita akan berpikir akan banyak bunga-bunga yang tumbuh. Namun, di taman ini cukup pepohonan saja yang menghiasi.

            Meskipun demikian, Taman Lansia amat diminati anak muda dibanding lansianya sendiri. Ketika siang sampai sore kita akan banyak melihat pria-pria membawa kamera dan wanita-wanita yang berdandan cantik.

            Banyak kelompok atau komunitas yang melakukan pemotretan di taman ini. Hendrik salah satunya, fotografer yang sehari-harinya bertugas di Trans Corporation ini sering berkunjung ke taman lansia bersama rekan-rekannya untuk melakukan pemotretan.

            “Tempat ini menarik karena di Bandung jarang kita melihat lingkungan seperti taman kota ini,” tuturnya. Latar belakang taman ini amat menarik baginya terutama untuk foto life style yang berlatar-belakang lingkungan.

            Hal yang sama diutarakan Susi Andiana, pelajar SMK ini mengaku sering dipotret di Taman Lansia ini. Menurutnya, Taman Lansia ini menarik karena selain pemotretan ia dapat hang out bersama-sama temannya. “Biasanya setelah pemotretan di sini kami foto di museum pos juga atau gasibu. Ya, dekat kemana-manalah,” ujarnya.

            Susi yang tergabung dalam Komunitas Fotografer Amatir Bandung (Kofaba) ini sering datang ke taman ini sekitar pukul 2 siang dan pada waktu akhir pekan. Setiap akhir pekan, ia selalu menghabiskan waktu untuk pemotretan bersama rekan-rekannya yang mayoritas pelajar.

            Meskipun demikian, ia menyayangkan Taman Lansia yang masih belum terawat. “Tanahnya gak enakan dan bisa bikin orang terpeleset. Toiletnya juga kotor, kurang perhatian taman ini,” tuturnnya. Ia berharap agar taman ini dapat lebih perawatan.

            Selain pedagang, fotografer, dan model, Republika juga menjumpai beberapa pemulung yang tinggal di Taman Lansia ini. Edi Yulianto, salah seorang pemulung Bandung membuat sebuah tempat tinggal dari gerobak di tengah-tengah Taman Lansia ini. Sudah 4 tahun ia tinggal di gerobak yang ditutupi plastik bersama seorang temannya, meskipun penggusuran sering tertimpa dirinya.

            Menurutnya, orang-orang yang berkunjung ke Taman Lansia aktif sampai malam hari. Namun, akhir-akhir ini pengunjung membatasi waktu berkunjung sampai pukul 22.00 wib karena takut ditangkap Satpol PP. “Banyak orang yang pacaran sampai malam-malam dan saya sering ingatkan. Akhirnya mereka yang gak mau diberi tahu ditangkap Satpol PP. Itu sering terjadi,” ujar Edi.

            Di tengah-tengah Taman Lansia tersebut amat banyak sampah yang bertumpuk. Menurut Edi, sampah-sampah tersebut tidak setiap hari diambil petugas kebersihan, meskipun seharusnya petugas memungut setiap hari.

            Taman kota hendaknya memberikan kenyamanan, kebersihan, dan asri agar menarik masyarakat berkunjung ke Taman. Bila kebersihan tidak terjaga dan tempat tidak terawat siapa yang akan tertarik datang ke Taman. Haruskah kata “lansia” juga turut menggambarkan “kelansiaan” taman ini? Tentunya kita berharap agar Taman Lansia memberikan keceriaan dan dapat menjadi tempat berekreasi bagi masyarakat. (mj02-Suci Amelia Harlen)           

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Twitter Updates

Blog Stats

  • 27,434 hits
March 2013
M T W T F S S
« Feb   Aug »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031