Jasmerah Mesir dalam Pengakuan NKRI

Merupakan hal yang klasik setiap 17 Agustus, kita melakukan perenungan terhadap jasa-jasa para pahlawan dalam merebut kemerdekaan. Namun, kita selalu lupa terhadap jasa negara-negara lain yang mengakui kedaulatan negara kita. Hal ini penting karena tanpa pernyataan sikap dari Mesir, Palestina, Syria, Iraq, Lebanon, Yaman, Saudi Arabia, Afghanistan, dan lainnya kita tidak akan berdaulat. Bagaimana mungkin kita merasa merdeka, tetapi negara lain tidak mengakuinya?

Pengakuan dari negara lain merupakan syarat penting berdirinya sebuang negara. Kita perlu berterima kasih kepada negara-negara yang sudah mengakui kedaulatan Indonesia. Dengan apa kita mengakuinya? Tentunya dengan hubungan diplomatik yang dibangun.

Mesir dan Palestina ialah negara yang pertama mengakui kemerdekaan Indonesia sebagai Negara Kesatuan Republika Indonesia (NKRI) pada 22 Maret 1946. Atas desakan Syeikh Hasan Albanna, Mesir akhirnya mengakui kemerdekaan Indonesia. Setahun sebelum Indonesia merdeka melalui Syeikh Muhammad Amin AL-Husaini sudah menyatakan dukungan untuk kemerdekaan Indonesia.

Bapak Proklamator kita Bung Hatta mengatakan, “Kemenangan diplomasi Indonesia dimulai dari Kairo. Pengakuan Mesir dan negara-negara Arab lainnya membuat segala jalan tertutup bagi Belanda untuk surut kembali atau memungkiri janji.”

Sebagai negara yang pertama mengakui kedaultan Indonesia, Mesir dan Palestinan merupakan pendorong yang menyebabkan negara-negara Timur Tengah berduyun-duyun mengakui kemerdekaan Indonesia. Kabar ini pun tersiar sampai ke Asia, sehingga India dan sekitarnya turut mengakui.

Panitia Pembela Indonesia pun dibentuk para pemimpin Mesir dan negara-negara Arab saat itu. Muhammad Zein Hassan dalam Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri mengatakan pengakuan kedaultan Indonesia diupayakan sehingga dibahas pada lembaga-lembaga internasional, seperti Liga Arab dan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Hal itu membuat posisi Indonesia setara dengan negara-negara lainnya dalam memperjuangkan diplomasi internasionl.

Hal-hal yang diusahakan Mesir kepada Indonesia ialah Mesir mengikrimkan konsulatnya Moh. Abdul Mun’im ke Yogyakarta menembus blokade Belanda untuk menyampaikan dokumen resmi pengakuan kedaulatan Indonesia. Moh.Abdul Mun’im datang dengan memertaruhkan nyawanya. Bisa Anda bayangkan bagaimana sulitnya menembus blokade Belanda yang tengah mengepung Indonesia saat itu. Sebagai tindak lanjutnya, delegasi Indonesia yang diwakilkan oleh Agus Salim datang ke Mesir dan membuat perjanjian persahabatan.

Polemik pun muncul saat itu, sebab Duta Besar Belanda menyerbu masuk ke ruang kerja sebelum penandatanganan perjanjian. Duta Besar Belanda saa itu pun mengancam Mesir dalam hubungan ekonomi, Belanda juga mengiming-ingimi akan memberikan dukungan terhadap Mesir dalam masalah Palestina di PBB.

Tindakan heroik lainnya yang dilakukan Mesir yakni dengan memboikot barang-barang buatan Belanda di seluruh negara-negara Arab, memutuskan hubungan diplomatik Arab-Belanda, penutupan pelabuhan dan bandara di wilayah Arab terhadap kapal dan pesawat Belanda, dan membentuk tim-tim kesehatan menolong korban agresi militer Belanda di Indonesia.

Sudah lama sekali hubungan diplomatik Mesir-Indonesia terjalin. Bahkan sampai tahun 2004 pun negara Mesir dengan perwakilannya Presiden M. Mursi yang saat ini dikudeta, terjun memberikan bantuan untuk rakyat Aceh pada peristiwa tsunami saat itu.

Indonesia harusnya ikut berperan dalam menentukan masa depan Mesir. Dengan dianggapnya Indonesia sebagai saudara kandung Mesir, disinilah kesempatan Indonesia berperan sebagai mediator. Merangkul semua pihak yang tergabung dari faksi-faksi Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Salafy, antek-antek Mubarak, dan lainnya.

Selain itu, sebagai negara demokrasi sejak 68 tahun yang lalu tentunya Indonesia dianggap telah matang dalam menyelesaikan konflik. Terlebih Indonesia juga memiliki sejarah yang mirip pada tahun 1998 di mana terjadi kudeta oleh militer terhadap kepemimpinan Presiden Soeharto. Tentunya kita sadar klaim militer dan oposisi tidak boleh diterima mentah-mentah. Kudeta bukanlah nafas demokrasi.

Bukankah Indonesia berjanji pada Pembukaan UUD 1945 untuk melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial? Hal tersebut merupakan salah satu tujuan nasional wawasan nusantara. Wawasan nusantara berfungsi sebagai pedoman, motivasi, serta rambu-rambu dalam menentukan segala kebijakan bagi penyelenggaraan negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Implementasi dalam kaitannya dengan hubungan internasional adalah politik luar negeri bebas aktif.

Dengan politik luar negeri bebas aktif, Indonesia dapat membalas jasa peran besar Mesir dalam mengakui kedaulatan Indonesia. Percuma saja kita berkoar-koar agar tidak melupakan sejarah pada hari kemerdekaan ini. Presiden SBY pada 14 Agustus dalam twitter-nya @SBYudhoyono  hanya mengatakan, “Situasi di Mesir makin memprihatinkan. Korban jiwa mulai berjatuhan. Indonesia berharap, keadaan tidak memburuk.” Harapan memang penting, tetapi aksi jauh lebih penting. Sudah saatnya Indonesia melalui kepemimpinan Presiden SBY menggunakan hak politiknya. Tunjukkan kembali taring Indonesia di mata dunia. Jangan sekali-kali melupakan sejarah!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Twitter Updates

Blog Stats

  • 27,434 hits
August 2013
M T W T F S S
« Mar   Oct »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031