Balada Si Kampung Banjir

Gambar

Jakarta jadi laut,
Memungut air hujan,
Ngalir menggapai tubuh,
Rumah dan kesedihan,
Orang-orang bertahan dalam getir,
Apakah 
takdir atau mimpi buruk?

            Sajak tadi merupakan cuplikan dari karya Alex R. Nainggolan dengan judul “Lautan Jakarta”. Di dalam sajaknya itu, Alex mengisahkan banjir sebagai kesedihan. Kesedihan yang dirasakan Alex sama dengan yang dirasakan penduduk Kampung Pulo. Maimunah, yang sejak lahir tinggal di sana tiba-tiba tercetus,“Kenapa ya sekarang sering banjir. Ini udah kayak musibah!”

Maimunah membuka kembali memori Kampung Pulo sejak 1936. Sejak zaman penjajahan, nenek 78 tahun ini sudah tinggal di sini.

Ia mengisahkan banjir pertama kali terjadi saat penjajahan Jepang. Itulah banjir pertama yang ia kenang. Setelah itu, banjir baru terjadi lagi 1970-an. Sejak saat itu, banjir menjadi bencana 5 tahunan dan kemudian menjadi per tahun.

Banjir yang terjadi saat ini, sudah terjadi sejak 30 tahun lalu. Perbedaannya sekarang terletak pada kualitas air dan frekuensi banjir. “Dulu memang ada banjir, tetapi airnya jernih dan  dangkal. Kalau sekarang banjirnya sudah sampai ke atap-atap,” ungkapnya dengan suara lirih kepada penulis.  Selain itu, banjir dahulu dapat surut dalam satu hari. Sementara, sekarang banjir baru dapat surut satu minggu.

Menurut Maimunah, janji relokasi rumah sudah ia dengar sejak Gubernur DKI Jakarta Tjokropanolo menjabat. Sayangnya, rencana gubernur yang menjabat tahun 1977-1982 ini tidak pernah terwujud. Jadi  bila ditanya apakah penduduk siap pindah, semestinya penduduk  siap karena sudah diberitahukan lebih dari 30 tahun lalu.

Cerita lain didapat dari Kamalaudin S, Ketua RW 2 Jalan Jatinegara Barat, Kampung Pulo.  “Banjir terparah terjadi 2002 dan 2007. Waktu itu air mencapai ketinggian 10 meter, tetapi tidak memakan korban jiwa,” tutur pria yang tinggal di Kampung Pulo sejak 1960.

Hal itu karena 5-7 jam sebelumnya, masyarakat mendapatkan informasi akan ada kiriman air dari Bogor. Pada jeda itulah penduduk  mengemasi barang-barangnya.

Meskipun setiap tahun langganan banjir, penduduknya tetap bertahan. Alasan utama karena mayoritas penduduk bekerja sebagai pedagang  di Jatinegara. Bertahan di Kampung Pulo menjadi pilihan tepat karena menghemat biaya transportasi.

Agar dapat bertahan, masyarakat rata-rata memiliki rumah mulai dari tingkat dua sampai  empat. Beberapa penduduk bahkan membangun rumah, meskipun sudah tahu akan direlokasi.

 “Sekarang penduduk tidak ada yang protes. Malah semakin menjadi-jadi membangunnya sejak Pak Jokowi berjanji akan memberikan ganti rugi sesuai dengan harga rumah,” ungkap Syafruddin, Ketua RT 1 Kampung Pulo.

Dahulu warga protes bila ada relokasi karena pemerintah hanya menjanjikan penggantian sebesar Rp 500.000,00-Rp 2.000.000,00, sangat tidak sebanding. “Kalau ganti rugi sih saya gak mau. Maunya ya ganti untung,” canda warga yang menempati rumahnya sejak 1971.

Kali Ciliwung merupakan penyebab utama terjadinya banjir di Kampung Pulo. Selain karena airnya yang sering meluap, sampah juga menjadi penyebabnya. Namun, siapa sangka beberapa masyarakat menggantungkan kehidupannya dengan memulung.

            Setiap harinya, Anda akan melihat seorang pemulung yang duduk di atas bantalan seperti perahu, ukuran 1 x 2 meter. Lalu perahu dibiarkan mengikuti arus sungai, sementara pemulung mengambil sampah-sampah yang ada di Ciliwung. Setiap hari pemulung dapat menghasilkan uang Rp 15.000,00-Rp 20.000,00.

Dihubungi penulis melalui telepon, Yayat Supriatna, pengamat tata kota dari Universitas Trisakti mengatakan masalah banjir Kampung Pulo terjadi karena Ciliwung yang mengalami pendangkalan dan penyempitan. Hal itu mengakibatkan terjadinya luapan di kiri-kanan sungai.

Kali Ciliwung yang berbentuk U dan daerah cekungan menjadikan daerah ini langganan banjir. Tempat seperti itu seharusnya tidak boleh ada pemukiman, tetapi malah menjadi padat.

Rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ingin memperlebar kali hingga 35 meter disetujui oleh dosen Trisakti ini. “Memperlebar kali memang usulan bagus. Namun, pelebaran itu idealnya sebesar 50-70 meter. Masyarakat mau tak mau harus direlokasi,” ungkapnya.

Dilematis memang karena untuk memberikan ganti rugi kepada masyarakat, pemerintah harus merogoh kantong yang besar. Hal itu terbukti sejak Gubernur DKI Jakarta ke-7 sampai saat ini, belum ada yang merealisasikan relokasi pemukiman.

Rumah susun yang dijanjikan Jokowi memanglah angin segar bagi masyarakat. Namun, masalahnya apakah pemerintah sudah berhasil mendapatkan tanah di Jakarta?

Banjir bukan sekadar melebarkan sungai, tetapi  bagaimana harus membenahi. Menggusur bukan semata-mata memindahkan rumah atau barang, tetapi memindahkan kehidupan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Twitter Updates

Blog Stats

  • 27,434 hits
October 2013
M T W T F S S
« Aug   Nov »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031