Ketika Perempuan Memarginalkan Dirinya Sendiri

 Suatu kelas sedang merumbukkan siapa ketua kelas mereka:

Jon: “Saya mengusulkan Tini jadi ketua kelas soalnya dia rajin dan memiliki jiwa  kepemimpinan yang besar.”

Rina: “Kalau menurut saya lebih baik laki-laki yang jadi ketua kelas karena secara fisik laki-laki lebih kuat. Di agama pun pemimpin itu laki-laki.”

Tini: “Ia jangan saya deh, lebih baik laki-laki saja.”

Jon: “Loh kenapa? Bukankah laki-laki dan perempuan itu sama saja?”

 

Mungkin dialog tersebut sering Anda dengar ketika duduk dibangku sekolah dulu. Pun tak asing kita mendengar istilah “ladies first”, “aku ‘kan perempuan”, “yang ini biar lelaki saja yang melakukannya”, dll. Kata-kata tadi tidak asing bagi telinga kita, bukan? Mirisnya, perempuan sendirilah yang mengatakan hal tersebut. Meskipun perempuan selalu menyuarakan antidiskriminasi, tetapi seringkali ia sendiri pulalah yang mengatakan dirinya harus didiskriminasi.

Menelisik sejarah, ternyata sudah sejak 1953 perempuan diakui hak-hak politiknya oleh PBB. Empat belas tahun kemudian disusul dengan kesepakatan penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan.

Indonesia sendiri mengimplementasikannya ke dalam UU No. 68 tahun 1958 tentang Persetujuan Konpensi Hak-Hak Politik Kaum Wanita dan UU No. 7 tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita. Setelah itu, keadilan dan hak perempuan Indonesia mengalami kemajuan. Mereka kemudian memiliki hak sama baik dalam politik, hukum, ataupun secara status sosial.

Adapun produk hukum terbaru ialah Rancangan Undang-Undang Kesetaraaan Gender (RUU KKG). RUU KKG ini menuai kontroversi berbagai pihak, bahkan agama pun ikut bicara di sini. Namun, di sini penulis tidak akan jauh membahas RUU KKG cukup sajalah mempertanyakan mengapa perempuan memarginalkan kaumnya sendiri?

Masalah perempuan yang terjadi sejak zaman Kartini  sampai sekarang sebutulnya ialah ketidakpercayaan perempuan terhadap dirinya sendiri. Ketika perempuan menyuarakan penyetaraan gender sebetulnya pada saat itulah ia memarginalkan dirinya karena pada saat itu ia merasa dirinya tidak setara dengan laki-laki.

Ruang-ruang di negeri demokrasi ini sebetulnya sudah terbuka sangat lebar. UU No. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik  mengatakan keterwakilan perempuan di DPR  dengan kuota 30%. Meskipun pemerintah sudah membuka lebar-lebar keterwakilan perempuan, tetapi tetap saja kuota ini masih belum bisa dipenuhi DPR. Dari 560 kursi yang tersedia, 101 kursi diduduki perempuan. Kedudukan perempuan di DPR hanya berkisar 18%.

Sudah sedikit, berulah pula. Sosok perempuan akhir-akhir ini malah banyak terjerat korupsi. Skandal korupsi yang mulai marak di Indonesia menambah sinisme figur perempuan di kalangan elite politik. Ketika itulah perempuan sudah memarginalkan kaumnya sendiri.

Kemarginalan yang lain juga diperoleh dari orang tua. Secara langsung maupun tidak langsung orang tua sering memberikan doktrin-doktrin lelaki harus lebih dari perempuan. Doktrin-doktrin inilah yang membuat perempuan merasa lebih rendah dibanding lelaki. Misalnya saja pada mahasiswa yang merantau untuk menempuh pendidikan.

Orang tua lebih mudah memberikan izin kepada anak lelaki yang merantau daripada anak perempuan. Alasannya, laki-laki lebih bisa menjaga diri dibanding perempuan. Dari analisis penulis sendiri, kenyataannya perempuanlah yang lebih apik dan yang lebih bisa menjaga dirinya.

Maka, sebetulnya yang harus dilakukan perempuan ialah berhentilah menyorak-nyorakkan ingin disetarakan gender karena sebetulnya dunia ini pun sudah membuka lebar ruang untuk kebebasan perempuan. Buktikan saja pada dunia perempuan dan lelaki itu sama saja.

Tulisan ini diterbitkan di Harian Padang Ekspres tanggal 1 September 2013

2 responses to “Ketika Perempuan Memarginalkan Dirinya Sendiri

  1. Halo, saya suka pernyataan saat perempuan merasa tidak setara, itulah saat dia berkoar ‘penyetaraan gender!’ ke hadapan laki-laki, padahal bisa saja perempuan diam dan just do the thing they want. Ternyata behind the scene dr permintaan kesetaraan, ada perasaan terancam dan tidak aman dari perempuan itu sendiri. Saya suka kontemplasinya.

    • iya tanpa kt sadari terkadang kt msh terdoktrinasi dg kebudayaan2 kt.. saatnya kt membentuk generasi baru tanpa iming2 perempuan lbh rendah dibanding laki2.. salam🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Twitter Updates

Blog Stats

  • 27,434 hits
November 2013
M T W T F S S
« Oct   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930