Soal Waktu dan Hari Pahlawan

“Mengheningkan cipta selama 60 detik pada tanggal 10 November 2013 Pukul 08.15 waktu setempat. OD027.” Itulah pesan yang dikirimkan Kominfo pada Jumat lalu (8/11) melalui pesan singkat ke handphone saya. Suatu pesan yang cukup menggelitik saya.

Saya mulai berpikir, apa maksud mengheningkan cipta yang dianjurkan Kominfo ini? Saya  membayangkan apakah saya seharusnya melagukan “Mengheningkan Cipta” karya Truno Prawit. Apakah saya harus merenung, menangisi nasib pahlawan-pahlawan, dan terbentuklah sebuah puisi pahlawan. Entahlah, saya tidak begitu memahami isi pesan Kominfo ini.

Hal yang menarik bagi saya justru konsep waktu yang dipakai oleh Kominfo. Dalam satu kalimat saja, secara tidak langsung Kominfo sudah menyebut empat konteks waktu. Konsep  60 detik, konsep tanggal 10 November 2013, konsep 08.15 (pagi), dan konsep waktu setempat.

Konsep waktu yang digunakan Kominfo menurut ilmu sejarah merupakan konsep kronologi. Istilah kronologi  dipahami sebagai urutan peristiwa yang disusun berdasarkan terjadinya. Kronologi berasal dari bahasa Yunani, yakni chromos berarti waktu dan logos berarti ilmu pengetahuan. Waktu secara harfiah diartikan sebagai ilmu tentang waktu.

Di dalam sejarah, kronologi diperlukan dalam menentukan waktu dan tempat terjadinya peristiwa. Kronologi bertujuan menghindari kerancuan waktu dan tokoh dalam sejarah yang dikenal sebagai anakronisme.

Peristiwa penembakkan yang terjadi di pagi hari tersebut tentu memiliki simbol dari aspek kehidupan kita. Serangan-serangan terjadi sejak pukul 06.00 wib di Surabaya dengan 30.000 serdadu Inggris, 50 pesawat terbang, dan kapal perang. Anda tentu dapat membayangkan apa yang Anda kerjakan biasanya ketika pagi datang. Ya, pada pagi hari kita bersiap-siap melangkah menuju hari baru.

 Pagi hari dikenal sebagai hari yang penuh dengan semangat dan suka cita, di mana orang-orang membuka lembaran baru. Masa depan terpancar di pagi hari. Namun, saat itu pagi hari menjadi masa suram, menyebabkan penduduk dan kota lumpuh. Bahkan, pagi itu mengancam stabilitas nasional serta mengancam kemerdekaan yang telah dikoar-koarkan 3 bulan sebelumnya (17 Agustus).  Adakah kita merenungi hal diatas pada hari pahlawan ini?

Waktu ibarat cinta. Kita dapat merasakannya, tetapi tak dapat mendefenisikannya. Namun, tidak demikian dengan kilas balik 10 November. kita tidak akan pernah merasakan peristiwa tersebut, tetapi kita dapat mendefenisikan peristiwa tersebut sebagai peristiwa tragis kemanusiaan.

Ajaran Markus Aurelius Augustinus (354-430), seorang filsuf dari Yunani, tentang waktu terkenal dalam bukunya Confessiones. Waktu tidak hanya merupakan proses dari kesadaran manusia, tetapi waktu juga refleksi atas pemahaman mendasar manusia akan waktu dalam posisinya sebagai makhluk yang memunyai hubungan dengan kebenaran abadi.

Ia pun membagi waktu atas dua, yakni waktu objektif dan waktu subjektif. Waktu objektif ialah yang terpecah atas tiga bagian yakni, masa lalu, masa depan, dan masa kini. Sementara waktu subjektif menurutnya merupakan kesadaran akan berlangsungnya segala sesuatu.

Berkat kesadaran, jejak-jejak yang ditinggalkan dari pengalaman indrawi dapat direkam dalam bentuk gambar dan dengan begitu keberlakuannya dapat dipertahankan. Gambar-gambar tersebut dapat dihadirkan dengan cara tiga dimensi waktu, yakni persitiwa masa lalu yang menghadirkan ingatan, hadirnya hal-hal nyata pada masa sekarang dengan penglihatan, dan hadirnya hal yang akan datang dengan pengharapan.

Di sini Kominfo ingin menghadirkan ingatan masa lalu lewat mengheningkan cipta. Barangkali lewat bait-bait T. Prawit tadi. Namun, tentunya yang memiliki ingatan hanyalah orang-orang yang ada pada masa itu. Pemuda Surabaya yang merasakan goncangan pada tahun 1945 tentunya yang paling dapat berefleksi sulitnya perjuangan masa lampau dan indahnya buah kemerdekaan sekarang.

Mereka yang merasakan perjuangan dan buah manisnya hari ini, tentu memiliki harapan yang besar untuk Indonesia kedepannya. Lantas bagaimana dengan kita yang tidak pernah merasakan perjuangan tersebut?

Pemuda yang lahir tahun 1950-an sampai 2000-an tentunya tidak dapat merasakan masa lalu itu. Ya, mungkin saja sebagian mencoba berkhayal, tetapi tetap khayalannya tidak akan pernah sama. Pasalnya, zaman sekarang amat jauh berbeda dengan zaman perjuangan dulu dan kita juga tidak dapat memvisualisasikannya dengan penglihatan.

 Kita hanya mendengar cerita dari mulut ke mulut tanpa pernah mendapat visualisasi. Saya malah mengkhawatirkan pemuda yang tak merasakan zaman itu (pemuda zaman sekarang) tidak memiliki harapan karena tidak memiliki rasa yang sama tentang perjuangan Indonesia.

Kita tidak akan pernah dapat  merasakan kesakitan saat ditembak dan kematian para pahlawan. Kita hanya dapat mendefenisikan bahwa tentara Inggris yang diboncengi NICA begitu brutal menghujani dengan bom dan menembaki  ribuan penduduk Surabaya.

Sejarah perlu dihadirkan kembali. Maksud saya tentu bukan peristiwanya yang dihadirkan. Kita dapat menghadirkannya lewat gambar-gambar, seperti yang dikatakan Augustinus agar keberlakuannya dapat dipertahankan.

Kominfo sebagai corong pemerintah seharusnya bisa membantu kita dalam mengingatkan sejarah-sejarah Indonesia. Melalui TVRI sebagai media publik, Kominfo bisa menitipkan film-film yang merupakan titik balik lahirnya Indonesia. Dengan begitu, keresahan kita dapat terendam.

Meskipun sejarah bukan untuk mengikat masa lalu, tetapi sejarah dapat mengingatkan generasi. Sejarah juga dapat menimbulkan harapan untuk menjadi Indonesia seutuhnya. Di hari Pahlawan ini, kita tentunya berharap menjadi Indonesia tak hanya sekadar gumam, tetapi di dalam harapan terdapat  aksi yang penuh energi.  

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Twitter Updates

Blog Stats

  • 27,434 hits
November 2013
M T W T F S S
« Oct   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930