Mendarah-dagingnya “Balimau” di Minangkabau

Beberapa kantong bunga sudah terletak di meja. Daun pandan yang sudah diiris halus, kuntum bunga kenanga, bunga mawar, bunga tanjung, segenggam bunga melati, dan jeruk kesturi  pasti ada ditiap-tiap kantong yang akan kami bawa. Siang itu kami sudah bersiap-siap berangkat ke tempat pemandian, tentunya tak lupa membawa perlengkapan mandi dan kasai (nama lain dari perlengkapan bunga-bunga).

Balimau merupakan suatu tradisi unik di Indonesia. Tradisi ini biasanya dilakukan oleh masyarakat Minangkabau dan sudah lama hadir di sana. Meskipun demikian, tidak ada yang tahu pasti sejak kapan hadirnya tradisi ini. Ada yang mengatakan puluhan tahun lalu, ada pula yang mengatakan ratusan tahun lalu. Namun, tradisi ini diduga kuat dipengaruhi oleh agama Hindu saat Kerajaan Muara Takus berdiri, berhubung Islam di Indonesia banyak dipengaruhi oleh agama Hindu.

Balimau sendiri diartikan masyarakat Minangkabau sebagai cara menyucikan diri seperti mandi wajib dengan limau (jeruk nipis) dan bunga-bungaan (kasai). Kasai  tadi dicampurkan ke dalam wadah dengan ditambah sedikit air suam-suam kuku. Selebihnya mandi seperti biasa saja.

Kasai digunakan karena pada zaman dahulu belum ada sabun atau sampo, sehingga menggunakannya membuat tubuh lebih harum. Selain itu, limau dapat melarutkan minyak dan keringat di tubuh. Sebelum mandi, tak lupa berniat menyucikan diri untuk berpuasa esok hari. Selain membersihkan tubuh, balimau memiliki makna yang mendalam yakni membersihkan hati agar mendapat ampunan oleh Allah SWT, sehingga ketika memasuki Bulan Ramadhan, jiwa benar-benar suci.

Lubuak Minturun merupakan tempat pemandian yang biasanya dituju orang Minangkabau, khususnya masyarakat Kota Padang. Setelah salat ashar, sungai ini sudah ramai dengan kaum muslimin yang ingin menyucikan dirinya. Layaknya ke pemandian umum dengan memakai kaos dan celana, para muda-mudi menceburkan diri ke sungai tersebut.

Nah, hal inilah yang dikritisi oleh alim ulama Minangkabau. Mereka mengatakan tradisi balimau ini sama halnya dengan mandi berjamaah (dalam artian negatif) karena telah bercampur baur  perempuan dan laki-laki.

Menurut pengamatan saya, memang benar banyak pasangan muda-mudi yang datang ke sungai untuk balimau sehingga sungai pun penuh sesak. Itulah yang membuat alim ulama marah. Lalu balimau pun dianggap kegiatan bid’ah karena terlihat seperti ajang hura-hura bagi pemuda-pemudanya. Ada yang menjadikan balimau sebagai ajang pacaran dan ada pula laki-laki yang sengaja datang  menonton wanita mandi-mandi. Memang tak semua pemuda yang begitu, tetapi dikhawatirkan akan menjadi penyakit masyarakat.

Balimau awalnya bertujuan memererat silaturahmi, menjadi jauh melencengnya ke arah hura-hura. Zaman dahulu kebiasaan balimau dilaksanakan di tepi air pancuran saja, berbeda dengan saat sekarang yang dilakukan di tempat-tempat pemandian.

Semakin hari semakin bertambah pula pengetahuan masyarakat Minangkabau akan kesalahkaprahan tradisi balimau ini. Tradisi ini pun berevolusi menjadi lebih baik dan sesuai kaidah agama. Semakin lama, semakin berkurang saja orang-orang yang pergi balimau ke sungai. Hal ini tak lain berkat peran dan pengaruh alim ulama yang berceramah di surau-surau, radio, maupun televisi mengenai bid’ah-nya balimau dilakukan di tempat pemandian umum.

Masyarakat pun diarahkan agar balimau cukup dilakukan di kamar mandi saja. Setelah balimau, biasanya anggota keluarga saling bermaaf-maafan karena besok akan mulai berpuasa. Lalu bersama-sama ke surau melaksanankan salat tarawih.

Tradisi balimau sekarang telah dikemas dalam bentuk yang lebih modern dan sesuai dengan kaidah agama Islam. Tradisi balimau saat ini tidak lagi hanya memakai limau dan kasai, tetapi dapat pula memakai sampo dan sabun karena lebih praktis.

Meskipun saya jauh dari orang tua karena berkuliah di Bandung, orang tua selalu mengingatkan untuk balimau menjelang puasa. Ibu saya selalu mengingatkan, “Jan lupo balimau beko yo nak” (Jangan lupa balimau nanti ya). Namun karena tidak ada yang menjual kasai di Bandung, saya akhirnya memakai sampo dan sabun saja. Demikian pula dengan rekan-rekan saya yang lainnya.

Begitulah tradisi balimau yang sudah mendarah daging pada masyarakat Minangkabau. Meskipun balimau tak lagi dilakukan di tempat pemandian umum, tetapi kebiasaan balimau masih terpatri pada masyarakatnya dimanapun berada. Jadi, sudahkan Anda balimau?

Terbit di Koran Tempo edisi Jumat (4/7) dengan judul “Mandi dan Bersuci ala Balimau”. 

Yang di post ini merupakan tulisan asli saya sebelum di edit  :)http://koran.tempo.co/konten/2014/07/04/346050/Mandi-dan-Bersuci-ala-Balimau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Twitter Updates

Blog Stats

  • 27,434 hits
July 2014
M T W T F S S
« Nov   Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031