Waspada Iklan Politik Pemilu 2014

Tahun 2014  merupakan momentum akbar politik yang dinanti-nanti oleh partai politik, calon legislatif (caleg), serta calon presiden. Berbagai cara dilakukan agar memenangkan pemilihan umum tingkat kota, daerah, sampai pusat. Tak sedikit dana yang digelontorkan politisi agar menang dalam pemilu 2014.

KPU memublikasikan laporan dana kampanye pada awal Maret lalu yang dilansir detik.com. Akumulasi dana kampanye dari dua periode ini, Partai Gerindra menerima sumbangan terbesar mencapai  Rp 306 miliar. Diikuti Partai Demokrat Rp 268 miliar dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Rp 221 miliar. Sementara untuk calon perorangan untuk mendapatkan kursi DPR pusat harus merogoh kroscek Rp 1 miliar sampai Rp 10 miliar.

Dalam hal ini, televisi juga mendulang untung besar dalam segi iklan. Hal itu karena pada masa kampanye ini, partai-partai mulai memasang iklan di televisi-televisi. Pemasangan iklan 30 detik saja, televisi nasional mematok harga Rp 15 juta sampai Rp 20 juta. Maka sudah dipastikan akan miliaran uang yang dikeluarkan partai bila ia setiap hari dan setiap saat memunculkan iklannya.

Kampanye terbuka partai sudah dimulai 16 Maret lalu dan akan berlangsung hingga 5 April. Kampanye ibarat kompetisi tak langsung bagi para caleg. Pada kampanye mereka sekuat tenaga berusaha mengalihkan perhatian konstituen agar tertuju pada dirinya dan partai. Meskipun pada akhirnya semua tergantung dari konstituen apakah terpengaruh dengan bujuk rayu caleg atau tidak.

Kampanye merupakan salah satu cara memperkenalkan diri caleg kepada khalayak. Tiga minggu lamanya waktu yang diberikan KPU agar masyarakat mengetahui calon-calon yang akan mewakili rakyat di DPR. Berbagai cara kampanye yang dilakukan caleg, yakni membuat panggung hiburan, melakukan bakti sosial, maupun iklan di media massa (surat kabar, radio, televisi).

Iklan merupakan cara paling mudah yang digunakan politisi dalam menyampaikan visi-misi dan mengenalkan dirinya. Terang saja karena cukup menitipkan foto, nama, dan membayar tarif iklan, kita sudah bisa dikenal masyarakat untuk iklan media surat kabar. Pada televisi cukup melakukan shooting saja. Berbeda bila berkampanye lewat acara-acara hiburan atau bakti sosial tentu banyak hal-hal yang harus diurusi, seperti panggung, pengisi acara, izin keramaian, masyarakat yang akan datang, dan lain sebagainya.

. Iklan merupakan bentuk kegiatan komunikasi non personal yang disampaikan lewat media dengan membayar ruang yang dipakainya dalam menyampaikan pesan yang bersifat membujuk (persuasif) kepada konsumen oleh perusahaan, lembaga non-komersial, maupun pribadi yang berkepentingan. Iklan tak hanya berbentuk produk, tetapi juga dapat berupa jasa maupun iklan politik.

Pada awalnya iklan bertujuan mempromosikan produk-produk. Namun, seiring berjalannya waktu iklan pun beralih fungsi dari sebagai alat pemasaran menjadi instrumen pencitraan politik. Instrumen ini tentunya bertujuan mengangkat citra positif tokoh yang sedang bersaing mendapatkan kursi legislatif.

Tak bisa dipungkiri politisi-politisi memanfaatkan harapan-harapan masyarakat (komodifikasi) lewat iklan politik. Politisi atau partai politik pun bertindak seperti pahlawan dengan janji-janjinya akan menyejahterahkan rakyat.

Iklan memang telah dipikirkan sedemikian rupa sehingga menggunakan pendekatan-pendekatan rasional psikologis dalam ilmu yang lebih modern. Iklan kemudian menggeser dari captain of industry  menjadi captain of consciousness, karena iklan membangun atau menumbuhkan kesadaran-kesadaran baru bahwa orang membutuhkan politisi-politisi untuk duduk di parlemen menyelesaikan masalah bangsa. Meskipun pada kenyataannya, tidak semua politisi yang menepati janjinya.

Pada judul di atas, penulis mengajak masyarakat mewaspadai iklan politik. Mengapa demikian? Karena iklan terbukti mampu merayu pemilih. Iklan pun mampu rmenghipnotis audiens untuk bertindak di luar kesadaran maupun di dalam kesadarannya. Misalnya saja, pada iklan pemutih wajah, wanita-wanita terayu membelinya tanpa mencari tahu bahan-bahan apa saja yang terdapat di dalam krim pemutih wajah tersebut. Padahal kebanyakan krim pemutih berbahan mercury yang tidak baik bagi kesehatan.

Iklan memunculkan kelebihan dan menutupi kekurangan. Analogi yang penulis sampaikan barangkali bisa disamakan dengan analogi iklan politik. Iklan dapat membuat pemberitaan korupsi lima tahun belakangan menjadi sia-sia. Bayangkan saja, partai yang diberitakan sebagai sarang koruptor, dalam tiga minggu bisa mendapat posisi lagi di hati pemirsa. Partai tersebut seakan-akan tidak pernah mendapat masalah.

Selain itu, Anda sebagai pemilih yang bijak harus mengetahui siapa dibalik media. Media merah misalnya dimiliki oleh salah satu petinggi partai beringin. Media biru dimiliki oleh petinggi partai perubahan. Media dengan grup besar terjaring dimiliki pula oleh calon wakil presiden dari partai nurani. Maka dari itu, pemirsa harus menyadari tayangan-tayangan partai politik yang dibuat.

Sayangnya, media-media tersebut tak segan menjadikan iklan sebagai berita. Hal ini jelas melanggar Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran(P3SPS). Apalagi televisi karena frekuensi televisi merupakan frekuensi publik. Hal ini tidak sama dengan surat kabar, di mana pembaca dapat memilih koran apa yang ingin ia baca.

Besarnya pengaruh televisi terhadap khalayak, sebetulnya sudah diteliti George Gerbner 54 tahun lalu dalam Teori Kultivasi. Teori ini dapat kita pelajari pada Ilmu Komunikasi. Gerbner mengawali penelitian ini dengan tindak kekerasan yang dilakukan oleh siswa-siswa sekolah dasar. Pada masa itu, banyak siswa yang melakukan tindak kekerasan. Lalu Gerbner meneliti, apa kebiasaan siswa-siswa kenapa angka kekerasan semakin tinggi.

Usut demi usut, ternyata siswa-siswa ini hobi menonton tayangan kekerasan. Saat itu, tayangan kekerasan menjadi tayangan favorit dengan rating tinggi dan televisi gemar pula menayangkannya.

Lalu akhirnya, Gerbner mengambil kesimpulan penonton akan cenderung mengikuti apa yang ada di televisi. Hal ini diklasifikasikan Gerbner lagi dengan durasi waktu. Semakin sering tayangan tersebut, maka akan semakin mudah memengaruhi khalayaknya.

Semakin lama, penelitian tak hanya mengarah pada tayangan kekerasan, tetapi juga politik. Survey membuktikan politisi atau partai politik yang memiliki rating tinggi  ialah yang sering beriklan di televisi. Bisa pula Anda perhatikan partai-partai yang tidak beriklan di televisi. Lalu perhatikan pula ratingnya. Maka dari hal ini saja dapat kita simpulkan  iklan partai di televisi  memengaruhi khalayak.

Survei yang dilakukan Lembaga Klimatologi Politik (LKP) terhadap 1.240 responden dari 34 provinsi menyebutkan elektabilitas Partai Hanura dan Gerindra meningkat sehingga mengancam dominasi partai papan atas. Hasil survey  menjelaskan elektabilitas Hanura sekarang sebesar 11,3 persen dan Gerindra 11,1 persen. Kemudian, elektabilitas PDI Perjuangan tetap teratas yaitu 21,8 persen dan Golkar 18,1 persen. Menurut LKP seperti yang dilansir republika.co.id (13/3) faktor meningkatnya dukungan terhadap Partai Hanura dan Partai Gerindra ialah kemampuan jajaran pengurus partai membangun citra positif di masyarakat melalui media.

Khalayak merasa penting memilih partai yang beriklan karena di dalam pikirannya merasa seluruh rakyat Indonesia memilih partai tersebut. Partai itu pula yang saat ini terlihat paling keren, paling peduli, dan paling terkenal. Hal inilah yang diteliti Gerbner pada tahun 1960-an bahwa tayangan televisi memengaruhi persepsi hingga tindakan khalayaknya.

Terlepas dari dampak-dampak negatif yang ditimbulkan oleh iklan, tentu kita tak lupa maksud utama dari iklan. Iklan bertujuan mempromosikan diri politisi maupun partai politik sehingga masyarakat menjadi tahu. Kita tidak bisa pula menyalahkan iklan karena menutupi kekurangan-kekurangan partai atau perorangan. Namun, yang perlu kita waspadai ialah jangan memilih semata-mata karena iklan saja. Sebaiknya, cobalah mencari tahu dengan cara-cara yang lain. Semoga Anda menjatuhkan pilihan pada partai dan calon legislatif yang tepat pada 9 April nanti. ***

 Partisipan opini Padang Ekspres “Waspadai Iklan Politik” tanggal 25 Maret 2014

http://www.padangekspres.co.id/artikel/4658/waspadai-iklan-politik.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Twitter Updates

Blog Stats

  • 27,434 hits
July 2014
M T W T F S S
« Nov   Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031